Di garis depan melawan penangkapan ikan ilegal di lautan terbesar di dunia

Di garis depan melawan penangkapan ikan ilegal di lautan terbesar di dunia

By | 2020-02-06T17:58:54-05:00 February 6th, 2020|translation, transparansi|

Data Global Fishing Watch mendukung patroli Penjaga Pantai Amerika Serikat (USCG) di Samudra Pasifik. Selama patroli tahun 2019, pengecekan ke atas kapal meningkat tiga kali lipat, sedangkan identifikasi pelanggaran meningkat delapan kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari 24 tahun perjalanan kariernya, Kapten Adam Morrison mengantongi 12 tahun pengalaman patroli laut di berbagai belahan dunia bersama USCG. Ia kenal semua tantangan menjaga luasnya laut lepas, mulai dari melakukan operasi penyelamatan hingga mencegat pedagang manusia dan penyelundup narkoba. Namun, belakangan ini ia lebih banyak berkontribusi di ranah yang tengah berkembang di dunia keamanan maritim, yaitu analisis data satelit mutakhir untuk membantu mendeteksi dan memerangi perikanan tangkap ilegal (IUU fishing). Dan beliau pun menjadi salah satu pelopor di bidang ini.

Pimpinan tertinggi USCG Komandan Laksamana Karl Schultz telah menegaskan bahwa memerangi IUU fishing kini menjadi prioritas utama operasi penjaga pantai global. Fokus patroli laut ini diutamakan pada kegiatan kapal penangkap ikan di laut lepas, serta kapal-kapal pengangkut yang memasok dan menerima hasil tangkapan mereka. Kedua jenis kapal ini dikenal sering beroperasi secara rahasia di perairan internasional.

Yang dipertaruhkan adalah upaya untuk meningkatkan jumlah stok ikan yang semakin berkurang, serta perekonomian negara-negara yang sangat bergantung pada perikanan. Kegiatan perikanan tangkap ilegal tidak hanya membahayakan mata pencaharian mereka yang menangkap ikan secara legal. Namun, aktivitas ilegal tersebut juga mengancam upaya konservasi dan pengelolaan perikanan, berkontribusi pada penangkapan ikan global yang berlebihan, dan bahkan, menurut berbagai studi, diketahui memiliki keterkaitan dengan perdagangan manusia, obat-obatan, dan senjata.

Captain Adam B. Morrison

Kapten Adam B. Morrison, saat menjabat sebagai Atase USCG di Kedutaan Besar AS di Tokyo, Jepang

Dua tahun lalu, Kapten Morrison ditunjuk sebagai Atase USCG pertama. Berbasis di Kedutaan Besar AS di Tokyo, beliau mewakili USCG terkait bidang keamanan maritim strategis kepada pemerintah Jepang. Peran baru tersebut mencerminkan pentingnya kawasan ini bagi kepentingan keamanan strategis AS. 

Salah satu misi Morrison adalah mendukung patroli tahunan di Pasifik Utara oleh USCG, yang dijalankan demi menyukseskan Operasi North Pacific Guard (NPG). Peran Morrison mencakup memfasilitasi kebutuhan logistik patroli dan membangun relasi untuk memastikan keberhasilan misi tersebut. USCG North Pacific Guard Patrol mendukung penegakan upaya konservasi bagi dua badan pengelola perikanan laut lepas utama di kawasan, yakni North Pacific Fisheries Commission (NPFC) dan Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC). Anggota patroli berwenang untuk melakukan pengecekan kapal di laut lepas yang dicurigai melakukan aktivitas penangkapan ikan secara ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak mematuhi peraturan (IUU).

“Selama lebih dari 25 tahun terakhir, patroli ini telah berjalan setiap tahunnya, dengan misi melindungi sumber daya laut dan mematuhi  perjanjian perikanan internasional, serta mendukung keamanan maritim secara umum. Jika Anda membayangkan betapa luasnya Samudra Pasifik dan banyaknya kapal penangkap ikan di perairan tersebut, Anda akan terbayang betapa besarnya tantangan kita. Menegakkan peraturan perikanan adalah tugas yang menantang. Saya ingin melihat bagaimana kami bisa memperbaiki kegiatan penegakan hukum perikanan,” kata Morrison.

Samudra Pasifik adalah cekungan laut terbesar di dunia, yang juga menjadi lahan penangkapan ikan tuna terbesar dunia. Menurut sebuah kajian baru-baru ini, Samudra Pasifik menyumbang sekitar 60 persen dari total tangkapan ikan laut global yang dilaporkan, dan Pasifik Barat Laut adalah daerah penangkapan ikan paling produktif di dunia. Badan pengelola perikanan di Pasifik Barat dan Tengah, seperti WCPFC dan Pacific Islands Forum Fisheries Agency (FFA), telah mengembangkan program pemantauan dan pengendalian perikanan terkemuka di dunia. Namun, masih ada kesenjangan, terutama di Pasifik Barat Laut. IUU fishing masih menjadi tantangan utama bagi pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab di wilayah tersebut. Sebuah studi tahun 2016 memperkirakan, di Pasifik Barat dan Tengah saja, lebih dari AS$142 juta hasil laut diangkut melalui transshipment setiap tahun. Sebagian besar dari tangkapan tersebut hanya dilaporkan sebagian, atau bahkan tidak dilaporkan sama sekali, oleh kapal penangkap ikan berlisensi.

Manajer Kepatuhan NPFC Peter Flewwelling memperkenalkan Kapten Morrison kepada Gunther Errhalt, seorang analis Global Fishing Watch (GFW) yang berbasis di Jepang, untuk membantu menganalisis tren perikanan ilegal di Pasifik Utara secara mendalam. Tujuannya adalah mengkaji keterkaitan yang mungkin muncul antarkegiatan penangkapan ikan ilegal, dan menggunakan data tersebut untuk menyusun rencana penegakan hukum oleh tim patroli pada tahun 2019. 

Sementara itu, kurang dari setahun yang lalu, USCG telah memulai sebuah kolaborasi yang belum pernah dilakukan oleh pasukan penjaga pantai mana pun, yaitu sebuah unit penelitian dan pengembangan USCG bekerja sama dengan GFW untuk mempelajari IUU fishing. Kolaborasi ini menjadi inisiatif awal dari unit data dan analisis baru GFW, yang bertujuan membantu pemerintah dalam memahami perikanan mereka dengan lebih baik, serta mengedepankan transparansi dengan cara mempublikasikan data kegiatan perikanan dan kelautannya. Ditunjang machine learning dan pemrosesan big data, GFW menganalisis data terbuka yang kompleks, dan menghadirkan informasi penting bagi berbagai badan keamanan maritim yang melengkapi program intelijen mereka sebelumnya. Analisis yang disediakan GFW tidak terbatas pada kegiatan perikanan, tetapi juga dapat menunjukkan apabila terdapat kapal penangkap ikan yang mungkin terlibat dalam kegiatan ilegal lainnya seperti perbudakan manusia, penyelundupan, atau pembajakan. GFW mengumpulkan rekam jejak dan data terkini mengenai aktivitas sebuah kapal – mulai dari penangkapan ikan, pertemuan antarkapal di laut, kunjungan ke pelabuhan, perubahan identitas, hingga izin penangkapan ikan. Berbekal data-data tersebut, GFW dapat menyajikan informasi dan rekomendasi kepada otoritas terkait untuk kemudian melaksanakan tindakan penegakan berbasis risiko.

Lewat kolaborasi dengan USCG, GFW dapat membantu Morrison membangun hubungan dengan pihak-pihak kunci, seperti Badan Penelitian dan Edukasi Perikanan Jepang, untuk memperkuat analisis pola IUU fishing di kawasan Pasifik. Platform analisis data GFW juga digunakan saat Patroli 2019 berlangsung, untuk membantu mengidentifikasi kapal mana yang perlu ditarget untuk tindakan penegakan hukum. 

Pada Juli 2019, kapal patroli berdaya tinggi milik USCG (USCGC Mellon / WHEC 717) berlayar dari pelabuhannya di Seattle. Selama dua setengah bulan berikutnya, kapal yang berisi 150 awak tersebut berpatroli menempuh jarak 19.000 mil laut di Pasifik Utara, dengan dukungan dari para inspektur perikanan Kanada. Seperti tahun-tahun sebelumnya, patroli dibantu oleh pesawat pengintai jarak jauh C130 milik USCG dari Jepang, yang diterbangkan dalam misi berdurasi hingga 8 jam untuk membantu mengidentifikasi aktivitas kapal yang mencurigakan. Namun, tahun ini, tingkat kesuksesan dalam mengidentifikasi pelanggaran sungguh melampaui tahun-tahun sebelumnya.

Xing Hua Sheng NO669

Tim dari kapal patroli Mellon mendekati sebuah kapal penangkap ikan untuk menjalankan inspeksi di Samudra Pasifik Utara, 13 Agustus 2019. © US Coast Guard.

Tim patroli mencatat peningkatan 344% dalam pemeriksaan ke atas kapal dan 867% dalam identifikasi pelanggaran, dibandingkan tahun 2018. Secara keseluruhan, kapal Mellon berhasil menjalankan 45 pemeriksaan muatan kapal penangkap ikan, dengan 68 pelanggaran menjalani pemeriksaan lanjutan.

Kapal-kapal yang diperiksa USCG pada 2019 berasal dari Jepang, Rusia, Korea Selatan, Tiongkok, China Taipei, dan Panama. Pelanggaran yang paling sering terjadi adalah penandaan kapal yang tidak sesuai, pemotongan sirip hiu ilegal, pelaporan penangkapan yang tidak sesuai, serta penggunaan sistem pemantauan kapal yang tidak sesuai ketentuan atau dirusak dengan sengaja. Dari jumlah keseluruhan, 25 kasus termasuk pelanggaran serius karena berpotensi memengaruhi perikanan secara signifikan dan/atau mengabaikan upaya konservasi dan pengelolaan berkelanjutan.

Pelanggaran ditulis dalam laporan pemeriksaan dan diserahkan ke negara bendera kapal (flag state) serta Regional Fisheries Management Organization (RFMO) terkait. Negara asal kapal kemudian dapat menyelidiki temuan tersebut dan melaporkan kembali ke negara-negara anggota RFMO mengenai sanksi apa yang mereka kenakan terhadap kapal pelanggar. Data yang terbuka turut membantu mengidentifikasi keberadaan hasil tangkapan ilegal di dalam rantai pasokan, sehingga turut mendukung kontrol pelabuhan yang lebih kuat untuk memastikan hasil penangkapan ikan ilegal tidak masuk ke pasar.

FV Lurong Yuan Yu 899 transshipment Pamyat Kirova

Tim inspeksi dari kapal patroli Mellon mendekati kapal penangkap ikan berbendera China, Lurong Yuan Yu 899, saat kapal sedang alih muatan ke kapal pemindah muatan berbendera Rusia, Pamyat Vessel, di Samudra Pasifik Utara, 15 Juli 2019. © US Coast Guard.

“Perbedaannya sangat mencolok,” ujar Kapten Morrison. “Analisis lanjutan yang disediakan oleh NPFC, serta data pelacakan satelit yang hampir real-time dari GFW, memberikan kami intel yang lebih mendalam. Hal ini memungkinkan kami untuk berfokus pada kapal yang mungkin terlibat dalam aktivitas alih muatan, dan mengarahkan seluruh perhatian pada aktivitas yang mencurigakan di malam hari. Analisis mendetail semacam ini tidak biasa dilakukan oleh USCG.”

Kapten Jonathan Musman, komandan kapal Mellon, menambahkan, “Kami merasa terhormat dapat berada di garis depan upaya penegakan hukum terhadap armada penangkapan ikan laut lepas. Penangkapan ikan ilegal merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap stok ikan laut. Patroli perikanan menjadi sangat penting untuk menunjukkan komitmen AS terhadap kemitraan regional kami, sembari memperkuat tata kelola kelautan regional dan mempromosikan keberlanjutan sumber daya laut hidup.”

Kapten Morrison cenderung rendah hati mengenai perannya dalam merintis aplikasi yang mendukung pemantauan dan kontrol perikanan oleh USCG. Ia memuji kru Mellon dan Kapten Musman atas operasi yang sukses. Namun, ia yakin aplikasi tersebut memiliki kemampuan dan potensi yang besar.

“Negara-negara maritim di seluruh dunia memiliki opsi penegakan hukum yang terbatas dalam melaksanakan patroli di dalam maupun di luar ZEE mereka. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya prioritas yang saling bersinggungan, mulai dari penegakan hukum, misi pencarian dan penyelamatan, hingga misi penting lainnya. Platform GFW menyediakan analisis mendalam dengan berbagai irisan informasi, sehingga mendukung transparansi terkait kapal yang menaati hukum atau yang berpotensi terlibat dalam penangkapan ikan ilegal. Akses terhadap data aktivitas perikanan yang hampir real-time menjadi sarana yang teramat kuat, baik untuk negara kecil ataupun besar. Informasi tersebut membuka tabir permasalahan yang ada, sehingga negara-negara dengan sumber daya terbatas dapat memfokuskan upaya mereka dengan lebih efisien dalam menegakkan hukum terkait perikanan ilegal,” kata Morrison.

GFW kini memperluas kolaborasinya dengan A.S. Bulan lalu, National Maritime Intelligence-Integration Office (NMIO) mengumumkan kerja sama baru antara GFW dan Marine Conservation and Maritime Security Coalition untuk meningkatkan transparansi maritim global. Kemitraan ini bertujuan untuk mengurangi konflik sumber daya laut dan meningkatkan stabilitas regional di laut melalui kekuatan analitis yang canggih dan kegiatan berbagi data dengan otoritas maritim yang relevan.

“Melalui kerja sama kami dengan lembaga-lembaga maritim, kami telah melihat langsung peran dari data terbuka dalam mendukung penegakan hukum di laut. 

Data terbuka dapat dibagikan dengan mudah antarorganisasi, dan dengan penyajian data yang tepat, seorang analis berpengalaman dapat mengidentifikasi target berisiko tinggi dalam waktu singkat. Hasilnya, kasus pun dapat diselidiki lebih lanjut dengan menggunakan sistem intelijen tradisional yang lebih tertutup serta aset-aset lain di perairan,” tutur Charles Kilgour, Direktur Data and Analysis Cell GFW. “Sangat mengesankan melihat bagaimana USCG dapat menggunakan data kami untuk menargetkan kapal dan kemudian pemeriksaan dijalankan oleh inspektorat mereka yang berpengalaman. Kombinasi ini mendukung berjalannya patroli yang efektif oleh USCG Cutter Mellon.”