Mendeteksi Aktivitas Perikanan Gelap di Laut Natuna Utara

Mendeteksi Aktivitas Perikanan Gelap di Laut Natuna Utara

By | 2020-03-13T19:59:16-04:00 March 13th, 2020|translation, transparansi|

Pada tanggal 1 Maret 2020, otoritas penegakan hukum Indonesia menangkap lima kapal ikan Vietnam yang menangkap ikan secara ilegal di Laut Natuna Utara di sebelah barat daya Kepulauan Natuna yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan. Keberhasilan operasi yang dilakukan oleh armada kapal-kapal patroli milik Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) menunjukkan komitmen pemerintah untuk tetap memerangi kegiatan perikanan secara Illegal Unreported and Unregulated (IUU) di Laut Natuna Utara. Kelima kapal Vietnam dan ABK-nya kini ditahan di Pulau Batam, di lokasi pangkalan PSDKP Batam.

Gambar 1. Lokasi 5 kapal ikan Vietnam ditangkap oleh otoritas Indonesia pada 1 Maret 2020.

Penahanan tersebut menggambarkan bahwa ancaman kegiatan perikanan secara IUU di Laut Natuna Utara masih tinggi. Tidak lama sebelum itu, terjadi pelanggaran yang sama di ZEE Indonesia oleh nelayan Tiongkok yang dikawal oleh kapal coast guard mereka pada bulan Desember dan terdapat beberapa video yang berhasil direkam dengan telepon seluler oleh nelayan Indonesia pada saat kejadian dan diberitakan juga secara luas di media massa. Video tersebut menunjukkan beberapa kapal ikan berbendera Vietnam tengah beroperasi secara ilegal di Laut Natuna. Sejak saat itu, pemerintah Indonesia telah menyatakan bahwa di tahun 2020, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) akan fokus berpatroli secara intensif di Laut Natuna. Namun, hal ini belum dapat membuat jera operasi perikanan kapal asing di Laut tersebut.

Melihat Data Untuk Mendeteksi Operasi Perikanan secara IUU

Melalui kerjasama dengan pemerintah Indonesia, Global Fishing Watch mengawasi Laut Natuna dan memberikan informasi kepada otoritas penegakan hukum mengenai setiap dugaan pelanggaran operasi perikanan secara IUU di Laut Natuna.

Analisis oleh Global Fishing Watch menggambarkan kondisi pelanggaran dari berbagai sumber data, yaitu Automatic Identification System (AIS) – transmisi GPS posisi kapal; dan citra radar, yang dapat mengidentifikasi kapal besar dan menembus awan. Citra radar ini disediakan oleh European Satellite Agency (ESA) satelit Sentinel-1 dan Sentinel-2.

Pada Februari 2020, analisis Global Fishing Watch dengan data AIS mendeteksi sebuah kapal ikan Vietnam yang beroperasi di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di sebelah timur Laut Natuna Utara (Gambar 2). Kapal ikan ini telah terdeteksi sering beroperasi di wilayah tersebut sejak tahun 2019 (Identitasnya dirahasiakan selama pemerintah menjadikannya sebagai target operasi). Global Fishing Watch juga melihat data citra satelit radar di lokasi kapal tersebut terdeteksi. Hasilnya sangat menarik untuk disimak pada bahasan selanjutnya di bawah ini. 

Gambar 2. Lokasi transmisi AIS dari kapal ikan Vietnam yang beroperasi di perairan Indonesia sejak 9 Februari hingga 26 Februari 2020.

Mendeteksi armada kapal gelap

Global Fishing Watch mengidentifikasi paling tidak 15 kapal ikan dari citra satelit radar di sekitar keberadaan transmisi AIS kapal yang terdeteksi dari Vietnam, di timur Laut Natuna. Kelima belas kapal tersebut tidak mentransmisikan atau memasang AIS. Kapal “gelap” tersebut -kapal yang tidak melakukan broadcast lokasi atau tidak dapat diamati dengan alat navigasi laut secara umum- bergerak sejajar satu sama lain, berpasangan dan selalu menjaga jarak yang konstan dengan pasangannya (Gambar 4 dan Gambar 5). Perilaku pergerakan kapal-kapal tersebut dari citra satelit menunjukkan bahwa kapal-kapal tersebut mengoperasikan alat tangkap pair trawl. Alat tangkap ini dioperasikan dengan melibatkan 2 kapal yang menarik jaring raksasa di bawah permukaan air laut di antara kedua kapal tersebut. Informasi ini menunjukkan bahwa tidak hanya satu kapal ikan Vietnam yang sedang beroperasi secara sendirian; ternyata ada banyak kapal yang lain yang juga beroperasi secara ilegal di lokasi. Jejak transmisi kapal ikan Vietnam tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 dan lokasi terdeteksinya 15 kapal “gelap” lainnya dari citra satelit dapat dilihat pada Gambar 3.

Melacak repeat offender

Gambar 2 menampilkan jejak pelacakan menggunakan data AIS sebuah kapal ikan Vietnam yang beroperasi selama Februari 2020. Kapal ini berangkat dari sebuah pelabuhan perikanan di Vung Tau, Vietnam pada 6 Februari 2020 dan sampai di perairan Indonesia 3 hari berikutnya. Diperkirakan kapal tersebut telah memancing secara ilegal selama 3 minggu sampai akhir bulan sebelum kembali ke Vung Tau pada 1 Maret 2020. 

Gambar 3. Lokasi 15 kapal gelap terdeteksi di sekitar sebuah kapal Vietnam yang terdeteksi dengan AIS.

Gambar 4 dan Gambar 5 menampilkan 2 contoh deteksi kapal “gelap” dari citra satelit. Dari cara kapal ini bergerak dan mempertahankan jarak satu sama lain, kapal ini diduga kuat menggunakan alat tangkap pair trawl yang memang sering digunakan dan telah menjadi alat tangkap ciri khas kapal ikan Vietnam.

Gambar 4. Dua buah kapal “gelap” berpasangan dari 15 kapal yang terdeteksi dari pengamatan citra satelit di sekitar keberadaan kapal ikan Vietnam di Laut Natuna Utara pada 14 Februari 2020.

Gambar 5. Dua buah kapal “gelap” berpasangan dari 15 kapal yang terdeteksi dari pengamatan citra satelit di sekitar keberadaan kapal ikan Vietnam di Laut Natuna Utara pada 14 Februari 2020.

Setelah kembali ke Vung Tau, berdasarkan pengamatan data AIS, satu minggu kemudian pada 7 Maret 2020, kapal ini sudah kembali lagi memancing di Laut Natuna Utara.

Analisis membuktikan bahwa operasi perikanan secara IUU oleh kapal asing di Laut Natuna Utara telah berlanjut menjadi isu yang terjadi secara berulang-ulang di perairan tersebut (Gambar 6).

Gambar 6. Pelanggaran batas yang berulang-ulang dilakukan oleh kapal ikan Vietnam di Laut Natuna Utara, di wilayah ZEE Indonesia.

Kolaborasi Adalah Kunci Untuk Menjegal Operasi Perikanan Secara IUU 

Kerjasama regional adalah kunci untuk memberantas operasi perikanan secara IUU. Pertukaran data dan informasi merupakan bagian dari kerjasama terhadap solusi masalah ini. Global Fishing Watch mempunyai semangat untuk mendukung pemerintah di seluruh dunia untuk mengisi kekosongan dalam melakukan monitor armada kapal perikanan dan operasi perikanan di wilayah – wilayah rawan serta menemukan solusi inovatif, science-based untuk berusaha menghapuskan operasi perikanan secara IUU. Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan dunia dalam membuka data dengan mempublikasikan informasi lokasi kapal ikan pada platform Global Fishing Watch. Langkah maju ini sangat penting untuk memperkuat pengawasan dan pengendalian di perairan Indonesia. Analisis Global Fishing Watch juga dapat membantu untuk mendukung patroli di Laut Natuna. Global Fishing Watch mengajak negara-negara di seluruh dunia untuk mendukung transparansi dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan dengan cara berbagi informasi aktivitas penangkapan ikan, kapal-kapal IUU dan data tangkapan.